Dulu saya sering mendengar ibunda mengeluh apabila memasuki musim " kawin" karena banyaknya undangan perkawinan yang harus dihadiri. Biasanya menbanjirnya undangan ini terjadi pada bulan - bulan sebelum puasa.
Di kampung saya, masih umum mengadiri undangan perkawinan dengan membawa segendongan penuh barang- barang kebutuhan seperti gula, teh, kopi, beras sebagai sumbangan selain dalam bentuk uang. Sumbangan ini juga berlaku untuk tetangga yang sedang membangun rumah, melahirkan ataupun kematian.
Balik ke masalah keluhan karena undangan.. Saya mengeluh karena undangan ulang tahun dari teman-teman sekolah Ben yang membanjir. Dalam bulan Januari lalu ada sekitar 4 anak yang berulang tahun dan semua merayakan dan mengundang teman-teman sekelas. Masuk bulan Februari, dalam satu minggu pertama ada 3 undangan ulang tahun, minggu kedua ada 4 undangan. Hampir semua pesta ulang tahun ini diadakan di bar ( baca: cafè) atau menyewa tempat malah ada yang mendatangkan penghibur seperti badut atau animator jenis lainnya. Bahkan ada yang memestakan tanggal kelahiran ini tiap tahun.. jadi 3 tahun bersama di TK, 3 kali undangan, tiga kali datang, tiga kali hadiah ulang tahun.
Dari beberapa undangan ulang tahun yang saya hadiri bersama Ben, saya melihat kesan saingan diantara orang tua. Anaknya sendiri begitu menerima hadiah ulang tahun di pegang beberapa menit terus lupa dan sibuk bermain. Jadi siapa sebenernya yang berkepentingan dengan perayaan ulang tahun untuk anak-anak yang masih kecil....
Di ulang tahun Ben kita tidak pernah merayakan seperti teman-teman sekolahnya melainkan hanya dengan mengundang beberapa teman ke rumah. Ben pernah mengusulkan dengan polosnya bahwa dia juga kalau berulang tahun pingin menyebar undangan dan mengadakan pesta ulang tahun di cafè
.. hi..hi.. Dasar anak kecil...