Monday, February 27, 2006,2/27/2006 11:22:00 AM
Bisikan Jeng Tanti
5 cose uniche o bizzari? Well, sebenernya kalo di suruh milih mendingan di sembunyikan saja hal2 aneh atau mungkin unik dari diri saya. Jeng Tanti, karena bisikan dirimu saya coba2 mencari apakah hal2 di bawah ini termasuk weird, bizzar...aneh..unik..
  1. Hand bag over loaded. Beautycase yang seharusnya berisi alat2 kecantikan, suka berubah fungsi menjadi First Aid Kit juga. Isinya selain bedak dan lipstik antara lain: Paracetamol, obat sakit perut, tusuk gigi, band aid, panty shields. Tidak heran kalau saya lebih seneng menenteng tas tangan ukuran besar dan banyak kantong2nya karena isinya bermacam2. Selain beautycase yang penuh sesak masih ada isi lain seperti tissue ( baru belakangan tissue basah di hapus dari list), permen ( harus), dompet & dompet koin, card holder, snack....tapi sudah saya keluarkan sekarang..karena bahu rasanya pegel belum kalau Ben tiba2 minta gendong.
  2. Suka Panadol Produksi Indonesia. Kalau lagi sakit kepala rasanya tidak hilang walaupun sudah minum Panadol yang bukan produksi Indonesia, atau paracetamol merk lain...mungkin ini gak terlalu aneh ya..karena kebiasan saja kali ya..
  3. Terbiasa hidup di lingkungan keluarga besar, rasanya takut kurang kalau masak atau belanja bahan makanan cuma sedikit. Masak dalam jumlah besar tanpa itungan, lupa kalau cuma bertiga sehingga ujungnya2 berhari2 makan dengan menu yang sama.
  4. Menutup closet walaupun di public toilet. Karena takut sesuatu jatuh di lubang toilet maka saya punya kebiasaan menutup closet walaupun di toilet umum ( yang duduk lho ya...bukan yang jongkok atau di sini biasa di sebut bagno turco), di pesawat atau di rumah orang kalau lagi namu.
  5. Kalau lagi sebel atau suntuk suka beres2 terutama beresin lemari pakaian. Setelah saya lihat2 lemari pakaian saya, rupanya belakangan ini saya jarang merasal sebel karena lemari saya berantakan.......

Sebenernya masih banyak lagi lho....wah berarti saya bener2 aneh atau unik?

 
posted by tari
Permalink ¤ 4 comments
Tuesday, February 21, 2006,2/21/2006 01:00:00 PM
Dunia tidak selebar daun kelor?
Sepulang dari Cineflash hari Sabtu yang lalu, dalam perjalan pulang kami mampir di desa kecil dekat rumah Forlimpopoli dan memutuskan makan malam di centro storiconya. Di sana kami bertiga singgah di pizzeria Il Melograno yang lumayan penuh malam itu. Sewaktu membolak balik buku menu, mata saya tertuju pada halaman terakhir yang berupa lembaran berisi tentang La Serata Stile Indonesiano yang diadakan April tahun lalu. Setelah saya amati baik- baik dekorasi dari ruangan tempat kami duduk banyak pajangan berbau Indonesia dan Bali khususnya. Dan seperti yang tertera di lembaran terkahir di buku menu, La Serata Stile Indonesiano memang menyajikan makanan khas Bali. Sambil menikmati pizza gigante tanda tanya berterbangan, apakah mungkin yang punya orang Indonesia....atau mungkin istrinya..atau..atau.... Saya beranikan diri bertanya mengenai La Serata Indonesiano kepada pizzaolo merangkap kasir, akhirnya terpecahkan teka teki saya tadi: "...sei Indonesiana..? Aku mengiyakan pertanyaan si pizzaolo ."Anche mia moglie........" Karena sibuknya si pizzaolo, memegang kasir dan membuat pizza, membuat saya tidak berani menggangunya dengan pertanyaan lebih detail. Yang saya tahu, La Serata STile Indonesiano aka di adakan dawal waktu dekat. Di sekitar tempat saya tinggal ada beberapa orang Indonesia yang tinggal dengan jarak tempuh dengan mobil di bawah 1 jam. Saya kenal mereka secara tidak kebetulan, misalnya secara tidak sengaja mendengar obrolan mereka di sebuah toko. Meskipun kami tidak mejadi teman dekat atau mempunyai something in common tapi senang rasanya menemukan sesama warga Indonesia di rantau.

Forlimpopoli - The card:

The town was built along the Via Emilia (SS. 9) between Forlì and Cesena on the place where the road meets the Bidente Valley (Ronco). The town is of Roman foundation and grew around the fortress which was destroyed and later rebuilt by the Cardinal Albornoz, Papal legate, in the 16th century. Forlimpopoli was ruled by different lords in the 15th and 16th century until it became a fief of the Zampeschi family by papal concession. Forlimpopoli also is the birthplace of Pellegrino Artusi reputed to be the father of Italian gastronomy ( for the book “Science in the Kitchen and the Art of Eating Well”)

 
posted by tari
Permalink ¤ 8 comments
Saturday, February 18, 2006,2/18/2006 03:56:00 PM
Tolerance and double standards
"I may disagree with what you say, but I will defend to the death your right to say it." (Voltaire)
The cartoons above were found in the news papers in certain countries and seemed to be accepted all over by the people that protested the Danish cartoons. No one made any fuss of it, not even the people that were characterised in it. I do not think that the Danish cartoons were useful or complimenting anyone, well on the contrary. They were useless and could well have been avoided. I wonder why mutual respect should not work both ways and why universal Humanitarian values should not be above anything else?
"I may disagree with what you say, but I will defend to the death your right to say it." (Voltaire)
 
posted by tari
Permalink ¤ 2 comments
Wednesday, February 08, 2006,2/08/2006 11:25:00 PM
Cambio gestione cambio ambiente
Buat teman-teman yang belum pernah ke negara sepatu, kalau suatu waktu ada kesempatan ke sini ( mampir lho ya.....) dan makan di ristorante, jangan kaget kalau kalian akan melihat sebuah pesawat televisi / la Ti Vu ikut meramaikan suasana makan kalian. Photo di atas aku ambil beberapa hari yang lalu, sewaktu kami bertiga makan di restorant kesukaan Ben, La Roca. Masih sepi karena baru jam 18.00..( memang kita selalu makan awal) jadi kitalah pelanggan pertama di sana. Ben mem-favourite-kan restoran ini karena dia sudah terbiasa dengan waiternya, Mr. Aslam. Karena waiter ini juga papanya Ben lebih suka makan ke sini. Mr. Aslam adalah seorang imigran dari Maroko yang fasih berbahasa Perancis, maka dari itu papanya Ben bisa memesan sesuatu sesuai keinginan dengan bahasa yang dia mengerti, lebih baik dari bahasa Italianya. Mulai bulan Januari tahun ini, La Roca berganti pemilik. Semua pernak pernik restoran masih sama, waiternya juga dan satu juru masak perempuan. Hal mencolok yang berubah selain para pizzaolo ( ada yang gundul....rabutnya rontok karena panasnya oven kali ya..) adalah, bertambahnya sebuah TV di pojokan dekat gantungan jaket. Tadinya saya berpikir sambil mencari-cari alasan mengenai kemunculan si TV ini. Rupanya pemilik baru La Roca penggemar sepak bola seperti hampir semua orang Italia pada umumnya. Lihat saja di photo, si pemilik sedang menonton pertandingan sepak bola, kalo tidak salah AS Roma melawan Parma sedang seru-serunya. Selain sepak bola, beberapa acara olah raga yang tidak bisa terlewatkan oleh orang sini adalah Motor GP dan Formula 1. La Roca bukan satu -satunya tempat yang menempatkan TV di antara meja makan. Banyak restoran keluarga memasanganya. The reason: simply not to miss the game. Selain hiburan, orang Italia menyukai anak-anak, jadi di hampir di setiap restoran kehadiran anak-anak hal yang biasa dan high chair selalu tersedia. Tidak seperti di negara-negara Eropa lain ( menurut pengalam pribadi) yang tidak begitu welcome apabila tamunya membawa anak kecil.
 
posted by tari
Permalink ¤ 13 comments