Sunday, January 29, 2006,1/29/2006 02:22:00 PM
My Bunny Boy
Buat anak2 lain seusianya, mungkin wortel, ketimun adalah sesuatu yang..behhhh.. yukes... Tapi buat Ben adalah sesuatu yang yummy dan dengan suka rela dan hati riang gembira menyantapnya. Setiap kali dia melihat saya mengupas wortel atau ketimun selalu dengan spontan berteriak: "..carrot...cucumber...!" dan langsung minta jatahnya dengan membawa piring Pooh-nya. Thanks to Peter Pan, playgroup tempat Ben dulu saya titipkan. Di sanalah Ben belajar mengkonsumsi sayuran segar, buah segar bersama teman2 seusianya, kurang lebih 18 - 24 bulan waktu itu usia mereka. Lucunya, karena sudah terbiasa menyantapnya dalam keadaan masih segar, wortel atau sayuran lain apabila ikut tercampur dalam masakan, Ben jadi tidak mau menyentuhnya dan minta di pinggirkan. Soal makan, dulunya Ben sedikit susah tapi sekarang sudah tidak begitu picky eater tapi tergantung moodnya. Misalnya; hari ini ketika di tanya pinginnya makan nasi + kecap manis, besoknya pingin makan pasta+ parmiggiano + olio di oliva atau pizza atau ikan.... Pasta, mungkin karena terbawa kebiasaan di sekolah yang hampir tiap hari menunya adalah pasta dengan saus yang berbeda. Dalam usia yang sekecil itu mereka sudah di ajarkan cara makan a la orang Italia yaitu dengan antipasto, primo,secondo dan dolce ( caffè & digestivo menyusul.....). Lain memang dengan cara makan orang kita yang menghidangkan piato unico / hidangan paripurna: nasi beserta lauk pauknya...sambal dan kerupuk..tidak lupa kecap manis.. Karena di sini hidangan cepat saji a la Amerika Serikat tidak begitu terkenal dan selain itu saya juga tidak begitu menyukainya, maka Ben hampir belum pernah mencicipi hasil masakan si badut Ronald. Bukan berarti saya tidak pernah menyebutnya, tujuan saya supaya Ben tahu siapa nama si badut itu tapi bukan untuk memperkenalkan hasil masakannya. Minuman soda pernah saya coba berikan karena beruang polar yang dia punya kebetulan memegang botol coca cola. Di rumah saya tidak pernah menyediakan minuman bersoda selain acqua frizzante sejenis Perrier atau merk lokal, jadilah terpaksa saya beli satu kaleng saja. Sambil meringis Ben bilang: "....pedas...with semut..." Roti bakar dengan semiran Nuttela, hanya saya berikan untuk menu sarapan pada hari Sabtu dan Minggu. Atau cemilan cokelat & permen saya batasi, itupun Ben tahu alasannya apa: "...me (I) will become dikke puppi ( gendut)..." Jangan heran kalau hampir di setiap celotehan Ben mencampur aduk beberapa bahasa seperti gado-gado ( yang kebetulan kesukaan papanya) antara bahasa Italia, bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Di sekolah Ben dengan sendirinya akan berkomunikasi dengan teman2 dan gurunya dalam bahasa Italia, meskipun awalnya dia agak kesusahan tapi sekarang sudah tahu bedanya. Suatu hari gurunya minta Ben menyanyi dalam bahasa Inggris di suatu perjalan dengan bis ke sebuah pameran, terang saja di tolak sama Ben dan dia bilang: "..solo con la mamma..." Sampai sekarang Ben masih terngiang dengungan gamelan yang mengiringi reog sewaktu kita pulang kampung musim panas lalu, juga masih terbayang enaknya menunggang kerbau milik pak tani yang belum kesampean. Selain sepupu dan saudara2 di Indo, hal lain yang tidak bisa dia lupakan adalah; blue taksi ( blue bird), teh botol dan sate ayam........yang memang yummy dan tiada duanya. Bersabarlah anakku, doakan orang tuamu banyak rejeki supaya kita lebih sering menikmati teh botol dan sate ayam di kampung halaman.
 
posted by tari
Permalink ¤ 9 comments
Tuesday, January 24, 2006,1/24/2006 07:35:00 AM
Ils sont fous ces Romains!
Meminjam motto-nya Obelix dari buku komik berkisah tentang orang2 Desa Galia, Asterix : Ils sont fous ces Romains! Sebagai orang Indonesia, semestinya saya sudah terbiasa dengan jam karet, tidak efisien, atau urusan take longer than expexted......... Akan tetapi lima tahun di negerinya Garibaldi, saya masih saja belum terbiasa dengan cara kerja orang sini. Di salah satu edisi Asterix, sayang saya lupa judulnya apa, di mana Asterix dan Obelix harus mencari sebuah dokumen di Roma dan di lempar dari satu loket ke loket lain, banyak pencari dokumen tsb yang menjadi gila karena harus mondar-mondar dari loket ke loket lain. Sepertinya saya ada dalam buku Asterix tersebut!. Ya, di sini... Tadinya saya berpikir bahwa tinggal di sini akan membuat saya terhindar dari segala macam birokrasi yang bisa membuat kepala bak di kelilingi bintang2 layaknya coretan Urdezo, ternyata dugaan saya salah besar. Hampir di setiap urusan di akhiri dengan arghhhhh...atau Ils sont fous ces Romains! Rasanya tidak akan ada habisnya kalau saya tulis di sini masalah keseharian yang saya hadapi di sini yang berhubungan dengan efisiensi kerja dan cepat tanggap terhadap masalah. Dari mulai memasang saluran telephone, urusan rekening koran dari bank, sampai mengurus surat ijin tinggal, semua saya hadapi dengan bintang bertaburan di sekitar kepala. Kadang2 saya berpendapat begini: "the right hand doesn't know what the left hand is doing".Berjalan mondar-mondir dari satu kantor ke kantor lain yang berkaitan untuk urusan yang sama tapi informasi yang saya terima berbeda itu sudah sering saya alami. Dokumen hilang untuk pembuatan surat ijin tinggal, pernah saya alami juga. Mungkin sebaiknya saya jalani pernak pernik keseharian di sini seperti waktu saya masih di tanah air. Jadi tetep berpikiran positif dan menikmati hidup penuh dengan harapan seperti yang Guido ajarkan kepada anaknya Giosué : la vita è bella.......
 
posted by tari
Permalink ¤ 11 comments
Friday, January 06, 2006,1/06/2006 07:02:00 PM
Chinoiserie
Cina, benar-benar mendominasi dunia saat ini. Apa yang akan di pikirkan Marco Polo seandainya beliau masih hidup? Beberapa sumber mengatakan bahwa sepulang dari penjelajahan ke negeri Cina beliau membawa oleh2 pasta, akan tetapi sumber lain mengatakan lain. Suku Venetian sudah mempunyai pasta sendiri jauh sebelum Marco berangkat ke sana. Anyway, spaghetti dan mie, ravioli dan dim sum, semua sama enaknya.
Dalam perjalanan ke Nice akhir tahun lalu, kami sempat menginap semalam di Genova selain Nathy ada urusan gawean juga karena jam keberangkatan yang molor..seperti biasanya. Hari Senin adalah giorno della chiusura untuk restoran di Italia, jadi hampir semua restoran tutup pada malam kami di Genova. Tadinya pingin mencicipi (mungkin) satu2nya restoran Indonesia di sini, tutup, terus kami putuskan berjalan saja sambil mencari2 tempat makan yang buka dekat hotel. Ristorante Pizzeria da Stefano, buka, tapi kurang sreg. Berjalan lagi menuyusuri pinggiran pelabuhan..Gerimis dan rajukan Ben yang sudah kelaparan mebuat kami balik ke satu2nya restoran yang buka di daerah tersebut. Begitu masuk, kurang yakin kalau restoran ini menyajikan masakan Italia..buona sela.... Sambutan hiasan ala Chinese restaurant, wajah2 bermata sipit di mana2.....sambil berharap paling tidak pizzaolo-nya orang lokal... Tavolo pel tle? Duduk dan membaca menu sambil terus di penuhi tanda tanya. Isi menunya memang masakan lokal tapi stylenya, laminated card, tetap sama. Karena sudah kelaparan akhirnya kita putuskan memesan makanan. Pizza margherita, pizza al pesto dan risoto alla pescatora. Sambil menunggu makanan datang, kebiasaan kami adalah pergi ke kamar kecil. Dalam perjalanan ke kamar kecil yang kebetulan letaknya di belakang melewati dapur dan oven untuk pizza, di sana di penuhi dengan sekali lagi orang dari negeri naga...pun si pembuat pizza. Makanan datang, the taste was OK and eatable, considering that the food was prepared by pizzonese and cuoconese......... Sambil makan kami mengamati orang 2 di sekitar meja kami yang ternyata banyak juga orang lokal dan nampaknya mereka sudah sering berkunjung ke restoran tersebut. Seorang laki2 Asia setengah baya dengan mengenakan rompi biru dan baju putih menyapa kami dan pengunjung lainnya dengan sopannya. Di meja tidak jauh dari tempat kami duduk terdengar teguran yang membuat kami menolehkan kepala karena penasaran; "Ciao Stefano". Rupanya laki2 Asia setengah baya tadi adalah Stefano, pemilik restoran ini. Mungkin nama lengkapnya Stefano Hung, Stefano Chang........atau Stefanese..... Sekitar 2 tahun yang lalu, pernah kami bertiga tersangkut di sebuah Pizzeria yang sekaligus menyajikan masakan chinese di Casalechio di Reno, dekat Bologna. Di sanapun penuh sesak di penuhi orang lokal, bisa di maklumi karena pembuat pizza masih di pegang orang lokal. Di Nice, kami sempat makan di sebuah restorant Thai, ujung2nya sajiannya Thai assembling alias chinese chef yang tanpa basa basi menambahkan sambal di masakannya. Sebenernya, pingin juga makan Pho-nya Vietnamese selama di Nice mengingat di Italia pilihan restoran asing sangat terbatas, tapi setelah melihat menu dan judulnya, langsung angkat kaki dan pilih restoran lokal. Pernahkah terbayang di pikiran, makan masakan Italia di Italia di masak dan di sajikan oleh Chinese? Sambil meninggalkan meja, Nathy sempat celetuk begini ke saya; " kamu pesan risoto karena kamu tahu pasti mereka bisa masak nasi"
Mohon maaf, photo ristorante da stefano gak ada, juga photo2 sewaktu kami di Nice karena card reader-nya error jadi semua photo hangus.
 
posted by tari
Permalink ¤ 10 comments