
Buat anak2 lain seusianya, mungkin wortel, ketimun adalah sesuatu yang..behhhh.. yukes... Tapi buat Ben adalah sesuatu yang yummy dan dengan suka rela dan hati riang gembira menyantapnya. Setiap kali dia melihat saya mengupas wortel atau ketimun selalu dengan spontan berteriak:
"..carrot...cucumber...!" dan langsung minta jatahnya dengan membawa piring Pooh-nya.
Thanks to Peter Pan,
playgroup tempat Ben dulu saya titipkan. Di sanalah Ben belajar mengkonsumsi sayuran segar, buah segar bersama teman2 seusianya, kurang lebih 18 - 24 bulan waktu itu usia mereka.
Lucunya, karena sudah terbiasa menyantapnya dalam keadaan masih segar, wortel atau sayuran lain apabila ikut tercampur dalam masakan, Ben jadi tidak mau menyentuhnya dan minta di pinggirkan.
Soal makan, dulunya Ben sedikit susah tapi sekarang sudah tidak begitu
picky eater tapi tergantung
moodnya. Misalnya; hari ini ketika di tanya pinginnya makan nasi + kecap manis, besoknya pingin makan pasta+ parmiggiano + olio di oliva atau pizza atau ikan.... Pasta, mungkin karena terbawa kebiasaan di sekolah yang hampir tiap hari menunya adalah pasta dengan saus yang berbeda. Dalam usia yang sekecil itu mereka sudah di ajarkan cara makan
a la orang Italia yaitu dengan
antipasto, primo,secondo dan
dolce ( caffè & digestivo menyusul.....). Lain memang dengan cara makan orang kita yang menghidangkan
piato unico / hidangan paripurna: nasi beserta lauk pauknya...sambal dan kerupuk..tidak lupa kecap manis..
Karena di sini hidangan cepat saji a la Amerika Serikat tidak begitu terkenal dan selain itu saya juga tidak begitu menyukainya, maka Ben hampir belum pernah mencicipi hasil masakan si badut Ronald. Bukan berarti saya tidak pernah menyebutnya, tujuan saya supaya Ben tahu siapa nama si badut itu tapi bukan untuk memperkenalkan hasil masakannya. Minuman soda pernah saya coba berikan karena beruang polar yang dia punya kebetulan memegang botol coca cola. Di rumah saya tidak pernah menyediakan minuman bersoda selain
acqua frizzante sejenis Perrier atau merk lokal, jadilah terpaksa saya beli satu kaleng saja. Sambil meringis Ben bilang: "....pedas...
with semut..."
Roti bakar dengan semiran Nuttela, hanya saya berikan untuk menu sarapan pada hari Sabtu dan Minggu. Atau cemilan cokelat & permen saya batasi, itupun Ben tahu alasannya apa: "...
me (I) will become dikke puppi ( gendut)..."
Jangan heran kalau hampir di setiap celotehan Ben mencampur aduk beberapa bahasa seperti gado-gado ( yang kebetulan kesukaan papanya) antara bahasa Italia, bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Di sekolah Ben dengan sendirinya akan berkomunikasi dengan teman2 dan gurunya dalam bahasa Italia, meskipun awalnya dia agak kesusahan tapi sekarang sudah tahu bedanya. Suatu hari gurunya minta Ben menyanyi dalam bahasa Inggris di suatu perjalan dengan bis ke sebuah pameran, terang saja di tolak sama Ben dan dia bilang: "..
solo con la mamma..."
Sampai sekarang Ben masih terngiang dengungan gamelan yang mengiringi reog sewaktu kita pulang kampung musim panas lalu, juga masih terbayang enaknya menunggang kerbau milik pak tani yang belum kesampean. Selain sepupu dan saudara2 di Indo, hal lain yang tidak bisa dia lupakan adalah; blue taksi ( blue bird), teh botol dan sate ayam........yang memang yummy dan tiada duanya. Bersabarlah anakku, doakan orang tuamu banyak rejeki supaya kita lebih sering menikmati teh botol dan sate ayam di kampung halaman.